Ahmad Iman Mulyadi
D1E009046

Saya mulai aktif mengakses dunia internet ketika saya masih duduk di bangku SMA. Sebuah akses Internet adalah barang mewah bagi pelajar apa lagi pada saat itu tidak begitu mudah untuk menemukan sebuah warnet. Hanya ada sebuah warung Internet kecil yang tampaknya sempit dengan hanya sekitar lima unit komputer yang berusaha saling berhimpit satu sama lain guna mengisi ruang yang mungil. Akses Internet kala itu cukup mahal untuk seorang pelajar, namun saya rasa saat ini pun hal tersebut belum berubah sepenuhnya.

Jika ada yang menggunakan dunia maya saat itu, mungkin hanya untuk mengirim surat elektronik yang tak terhindarkan atau memasuki apa yang dikenal sebagai ruang obrolan atau chat room bagi mereka yang ingin melepas penat dengan menemukan percakapan dari wajah-wajah yang hanya muncul dalam bayangan pikiran dan beberapa baris teks pada layar komputer di hadapannya. Hal-hal yang sering saya lakukan ketika mengakses internet adalah mencari gambar-gambar yang saya sukai antara lain tentang dunia otomotif, olahraga, fotografi, pemandangan dan lain-lain. Selain itu saya juga mempelajari e-mail dan mencoba-coba untuk menggunakannya. Karena kebiasaan tersebut lama-lama mebosankan saya pun mulai jarang untuk mengakses internet.

Tidak lama setelah itu terdengar kabar bahwa banyak game-game on-line yang keren beredar di internet, Warnet pun mulai tumbuh menjamur dikarenakan sudah banyak para konsumen yang mengaksesnya dan dengan tarif yang kala itu sudah turun jauh dari sembilan ribu per jam menjadi enam ribu per jam. Fasilitas warnet pun mulai membaik tidak seperti dulu dimana hanya terdapat beberapa komputer dengan fitur seadanya. Sekarang warnet berlomba-lomba memberikan pelayanan dan fasilitas yang beik demi menarik peminat pengunjungnya. Kembali lagi ke topik game on-line, kebanyakan yang mengakses game-game on-line adalah anak sekolah. Mereka mulai merasakan kecangihan dan serunya bermain game dengan  fitur-fitur baru sehingga para penggemar game-game dari Play Station pun berganti untuk mencoba bermain game on-line. Pada saat itu game yang paling sering saya mainkan adalah Counter-Strike (CS) yaitu game perang, dimana skill dan kekompakan pemain sangat dituntut agar dapat memenangkan game ini, adapun game-game petualangan dan lain-lain.

Pada saat itu fenomena jejaring sosial belum begitu mencuat seperti saat ini, hanya beberapa orang saja yang aktif mengaksesnya. Friendster (FS) yang ide penamaannya berasal dari nama Napster, adalah sebuah situs web jaringan sosial di mana seorang pengguna akan membuat identitas maya dan kemudian mengisi data dirinya untuk kemudian mendapatkan account di Friendster. Dalam Friendster, kita juga dapat melihat teman dari teman kita dan teman dari teman dari teman kita, selain melihat teman kita sendiri.

Friendster dimulai sejak tahun 2002 oleh Jonathan Abrams dan sekarang sudah melewati masa beta test. Sejak awal 2005, Friendster juga telah memulai fitur blog. Saat ini Friendster telah menginternasionalisasi bahasanya yang semula hanya bahasa Inggris, saat ini telah tersedia bahasa Indonesia, bahasa Tionghoa, bahasa Spanyol, bahasa Korea, bahasa Jepang, bahasa Vietnam, bahasa Malaysia. Situs ini merupakan situs jaringan sosial pertama di internet yang memiliki basis awal di negara-negara berbahasa Inggris, lalu menyebar hingga ke Asia. Posisinya di Amerika Serikat dan tidak lama kemudian digantikan dengan MySpace dan kemudian Facebook dan LinkedIn, namun situs ini masih memiliki basis masa di Asi. Selain itu, seiring semakin populernya layanan ini muncul juga berbagai akun yang disebut fakester. Akun-akun ini adalah account yang dibuat bukan dengan identitas diri sendiri, seperti selebriti dan tokoh politik seperti Presiden RI ke-2, Soeharto, yang di Friendster terdapat beberapa account dengan nama beliau.

Bahkan terdapat sedikitnya 35 account Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Andi Mallarangeng, pihak Istana Kepresidenan telah melacak pihak pembuat situs-situs itu, bahkan langsung menyurati pengelola jaringan friendster maupun penyedia jasa Internet di Yahoo, agar sesegera mungkin menghentikan pengguna yang mengaku sebagai Presiden Yudhoyono. Friendster.com biasa digunakan untuk mencari teman dan mempublikasikan profil pribadi, serta melengkapinya dengan foto. Friendster.com tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi bahkan di seluruh dunia. Dengan menu Pencarian pengguna dapat mencari anggota Friendster lain, baik menurut nama, alamat, atau bahkan menurut hobinya. Apabila telah melihat profil seorang anggota Friendster, pengguna dapat menambahkannya ke dalam daftar teman. Dengan mengklik Tambahkan sebagai Teman. Hanya saja untuk itu harus mengetahui alamat email atau nama lengkapnya, setelah itu tinggal menunggu persetujuan darinya.

Pengguna juga bisa saling mengirimkan pesan kepada anggota Friendster lain melalui fitur Kirim Pesan. Selain itu, juga dapat menambahkan Testimoni kepada teman. Testimoni dapat berupa komentar, ucapan selamat ulang tahun, atau bahkan sebuah gambar. Testimoni yang telah diterima akan ditampilkan pada bagian bawah profil yang bersangkutan. Jika ingin menambahkan sebuah Testimoni, anda cukup mengelik ikon Tambah Komentar pada profil, Akan tetapi menurut saya jejaring social membosankan dan sayapun tidak punya keinginan untuk punya akun FS tersebut akan tetapi teman saya yang memaksa membuatnya dan sayapun tetap tidak menghiraukannya dan sampai pada akhirnya fenomena FaceBook (FB) mulai mencuat. Facebook adalah situs web jejaring sosial yang diluncurkan pada 4 Februari 2004 dan didirikan oleh Mark Zuckerberg, seorang lulusan Harvard dan mantan murid Ardsley High School. Keanggotaannya pada awalnya dibatasi untuk siswa dari Harvard College. Dalam dua bulan selanjutnya, keanggotaannya diperluas ke sekolah lain di wilayah Boston (Boston College, Boston University, MIT, Tufts), Rochester, Stanford, NYU, Northwestern, dan semua sekolah yang termasuk dalam Ivy League. Banyak perguruan tinggi lain yang selanjutnya ditambahkan berturut-turut dalam kurun waktu satu tahun setelah peluncurannya. Akhirnya, orang-orang yang memiliki alamat surat-e suatu universitas (seperti .edu, .ac.uk, dll) dari seluruh dunia dapat juga bergabung dengan situs ini.

Selanjutnya dikembangkan pula jaringan untuk sekolah-sekolah tingkat atas dan beberapa perusahaan besar. Sejak 11 September 2006, orang dengan dengan alamat surat-e apa pun dapat mendaftar di Facebook. Pengguna dapat memilih untuk bergabung dengan satu atau lebih jaringan yang tersedia, seperti berdasarkan sekolah tingkat atas, tempat kerja, atau wilayah geografis. Hingga Juli 2007, situs ini memiliki jumlah pengguna terdaftar paling besar di antara situs-situs yang berfokus pada sekolah dengan lebih dari 34 juta anggota aktif yang dimilikinya dari seluruh dunia. Dari September 2006 hingga September 2007, peringkatnya naik dari posisi ke-60 ke posisi ke-7 situs paling banyak dikunjungi dan merupakan situs nomor satu untuk foto di Amerika Serika, mengungguli situs publik lain seperti Flickr, dengan 8,5 juta foto dimuat setiap harinya.

Menurut saya pribadi, saat ini akun FB menjadi sebuah keharusan untuk dimiliki oleh setiap individu yang ingin mempermudah dalam bertukar informasi. Tidak hanya itu, dengan pelayanan yang disediakan FaceBook kita dapat mebuat sebuah forum komunitas bahkan membuat bisnis on-line yang dapat mendapatkan keuntungan. Akan tetapi banyak yang pro dan kontra dengan hadirnya jejaring social FaceBook ini antara lain adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kalimantan Selatan (Kalsel) Prof H Asywadie Syukur Lc berpendapat, keberadaan Facebook (salah satu sarana komunikasi lewat dunia maya) bisa haram dan tidak. Mantan Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari Banjarmasin itu nampaknya berhati-hati dalam mengeluarkan pendapat mengenai Facebook yang belakangan ramai menjadi pembicaraan di berbagai kalangan di Indonesia, demikian dilaporkan, Minggu (24/4).

“Kita tidak bisa memfatwakan Facebook itu haram atau sebaliknya, kecuali melihat kontekstualnya,” kata alumnus Universitas Al Azhar Kairo Mesir itu. Guru Besar IAIN Antasari tersebut mengingatkan tuntutan agama Islam, yang antara lain menyatakan, segala sesuatu tergantung atau bermula dari niat orang itu. Sebagai contoh, pemanfaatan Facebook dalam rangka berkomunikasi guna menggali atau tukar ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kemaslahatan umat, hal itu tidak bisa dibilang haram. Namun, bila pemanfaatan Facebook untuk berkomunikasi dalam hal-hal yang terlarang, baik secara hukum positif di Indonesia, maupun menurut norma-norma Islam, maka penggunaan sarana tersebut bisa dikategorikan haram.

“Hal tersebut sama saja dengan kita memakai sepeda motor. Kalau tujuan baik dan benar, maka tak ada larangan menggunakannya, tapi sebaliknya, bila untuk tujuan negatif atau dimanfaatkan dalam melakukan perbuatan jahat, maka hukum Islam pun tak membolehkan,” ujarnya.

“Jadi kalau saya pribadi melihat kedudukan Facebook itu haram atau tidak, maka akan kita lihat dari segi manfaat dan mudarat. Kalau manfaatnya lebih besar untuk kebajikan atau kemaslahatan umat, maka pemanfaatan Facebook bagi kaum Muslim boleh-boleh saja. Tapi sebaliknya jika negatif, maka itu haram,” ungkap Asywadie Syukur. Informasi ini adalah informasi yang saya kutip dari KOMPAS.com. Berbagai fenomena terjadi didalam dunia maya terutama dalam jejaring social facebook.

Hal baru ini – dalam benak saya – tentu akan menggoda para pembelajar muda untuk menjelajah dan memperkaya pengetahuan dengan sebuah metode yang pendekatannya – sepenuhnya berbeda dari cara-cara klasik. Namun tentu saja akan memerlukan pengalaman dan pembelajaran tersendiri, karena tidak seperti halnya buku teks yang telah terstandardisasi, isi Internet perlu terlebih dahulu disaring oleh penggunanya untuk mendapatkan hasil yang diinginkan dan menghindari memperoleh hasil yang keliru karena sebagaimana yang telah dikenal oleh publik luas pengguna Internet. Maka kita bisa menemukan bahwa dunia maya itu layaknya sebuah pedang bermata dua, di satu sisi dapat memberi manfaat positif bagi dunia pendidikan, sedangkan di sisi lain bisa mendatangkan “malapetaka”. Namun tentu saja, sebagaimana halnya semua hasil teknologi kreasi manusia, Internet memerlukan kecerdasan dan juga secara bersamaan kearifan dalam menggunakannya, atau dengan kata lainnya, kita mesti “melek Internet”.

Ya, jika dunia pendidikan berniat mengadaptasi teknologi modern yang disebut Internet ini ke dalam ranah mereka, maka baik pendidikan dan pelajar selayaknya “melek Internet”. Karena sebagai sebuah jalur komunikasi dan pemindahan pengetahuan antara pendidik dan pelajar, maka jalur ini selayaknya dipahami dan mampu digunakan dengan baik oleh kedua belah pihak. Dengan analogi sederhananya, Anda tidak akan bisa pergi mengantarkan barang dengan sepeda motor, jika Anda sendiri tidak bisa mengendarai sepeda motor, meski Anda pernah dengar dan pernah melihat orang bersepeda motor di jalanan.

Hingga saat ini, sejauh yang saya (kadang kala) sempat memerhatikannya, bahwa penggunaan Internet bagi para pelajar hanya untuk mencari “bahan” untuk “tugas sekolah”, sebagaimana yang diinstruksikan oleh para gurunya. Bahkan tidak jarang, situsnya telah ditentukan terlebih dahulu. Gambaran ini kadang mengesankan minimnya kreativitas dalam memanfaatkan teknologi dunia maya.

Kebanyakan sisa penggunaan dunia maya oleh kaum pelajar adalah untuk berinteraksi dengan sesamanya, semisal melalui jejaring sosial. Jadi tidak heran jika saat ini kita bisa melihat anak SMP dan SMA hingga anak kuliahan di kota-kota yang telah tersentuh modernisasi teknologi ini, sibuk dengan ponsel cerdas mereka untuk sekadar berbincang dengan teman-teman mereka di dunia maya, pun bisa juga justru memaki-maki kondisi sekolah, para guru atau staf pengajar karena kecewa dengan hal-hal tertentu. Sehingga kadang kita bisa menyaksikan berita di televisi yang mengabarkan pelecehan siswa melalui status jejering sosialnya pada pihak sekolah ataupun pihak pengajar.

Lalu, apakah kini Internet di mata pelajar hanya sebagai sebuah tambahan dalam ranah mencari “bahan” untuk “tugas sekolah”, dan sisanya hanya untuk bersenda gurau dalam ruang maya? Jika demikian, maka akan lebih baik untuk proses pendidikan menyediakan sebuah kepustakaan digital yang mumpuni, berisi koleksi buku elektronik yang lengkap untuk diakses para pelajarnya, ini akan jauh lebih bermanfaat, efektif serta produktif daripada sekadar mencari “bahan” untuk “tugas sekolah”. Namun Internet bukanlah sekadar buku digital, bukan sekadar sumber referensi yang bisa dicomot begitu saja untuk disalin ke dalam buku pekerjaan rumah para pelajar. Jika kita tidak mengenali potensinya, berarti kita tidak memahami seluk beluk dunia maya, dengan kata lain, generasi pembelajar kita sama sekali belum “melek Internet”.

Jika seorang pelajar merasa melek “melek Internet”, cobalah untuk menjawab beberapa pertanyaan seputar dunia berikut ini:

  • Jika pelajar ingin mendapatkan buku pelajaran digital, ke manakah ia harus menuju?
  • Jika pelajar tidak ingin terkecoh hasil pencarian mesin telusur untuk mendapatkan hasil valid bagi referensinya, apa yang mesti ia persiapkan dan kerjakan?
  • Jika pelajar ingin membagi pandangannya tentang karya sastra atau mendapat panduan menciptakan karya sastra, di mana ia bisa berbagi dan mendapatkannya?
  • Ada sebuah persoalan matematika yang rumit, di manakah kira-kira solusinya bisa ditemukan dengan di dunia maya yang luas ini?
  • Pelajar yang memiliki hobi dan ketertarikan untuk kegiatan ekstrakulikuler yang sama, medium apa yang terbaik bagi mereka untuk saling terhubung dan berbagi?

Nah, pertanyaan itu hanyalah sedikit dari sekian banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk melihat apakah apakah kaum pelajar kita telah “melek Internet”. Namun jawabannya sendiri tidaklah esensial untuk melihat hal ini, namun jawaban yang Anda harapkan. Jika Anda berharap sebuah jawaban tunggal yang tepat seperti halnya pilihan ganda, maka Anda mungkin jauh dari “melek Internet” itu sendiri, karena pada dasarnya dunia maya adalah dunia yang bisa dikustomasi dengan tanpa batas sesuai dengan kemampuan dan kesukaan penggunanya.

Semisalnya, seperti apa yang dituliskan Bli Andi – demikian saya menyebutnya – seorang dosen Teknik Geodesi di UGM dalam tulisan anyarnya “KulOn: waktu nyata, daring dan murah” tentang bagaimana memanfaatkan Internet untuk membuat kuliah secara daring. Ya, kuliah online, begitu istilah kerennya akan memberikan optimalisasi pemanfaatan Internet secara baik. Bayangkan, seorang dosen tidak perlu datang secara langsung ke tempat berkumpulnya peserta didik jika mereka berada di wilayah berbeda, cukup dengan teknologi telekonfrensi maka proses belajar mengajar bisa tetap berjalan dengan baik.

Tentu ini akan menghemat biaya, jangan dilihat dari teknologi komputerisasinya, namun biaya yang dihemat dari perjalanan antar wilayah atau antar negara hanya untuk menghadiri proses belajar mengajar. Yang jika diakumulasi akan jauh lebih mahal dibandingkan biaya teknologi itu sendiri. Maka dengan potensi ini, kita bisa menekan biaya pendidikan itu dengan sendirinya, dan bahkan menyebarkan pendidikan ke pelosok-pelosok terpencil negeri ini melalui dunia maya.

Atau adakah Anda telah membaca tulisan saya sebelumnya tentang “Kehidupan Kedua di Dunia Digital”? Anda bisa membayangkan bagaimana dunia maya mampu menghadirkan dunia kedua untuk berinteraksi dengan pelbagai orang di seluruh dunia, sebagai kita berinteraksi di dunia nyata, dan kemampuan menciptakan lingkungan yang kita inginkan. Inilah salah satu teknologi dunia maya yang disebut sebagai “Second Life”, menghadirkan dunia virtual yang bisa didesain untuk mewakili dunia nyata.

Bayangkan dengan teknologi “Second Life”, kita bisa menciptakan seluruh nusantara ke dunia digital, termasuk tradisi dan budayanya. Anak-anak sekolah dapat mengunjungi museum-museum di seluruh nusantara dalam sebuah dunia virtual tanpa perlu datang jauh-jauh ke provinsi-provinsi yang jaraknya begitu jauh, melelahkan dan menguras biaya. Atau misalnya anak-anak yang menyukai kegiatan mendesain robot bisa menciptakan dunia digital mereka dan berinteraksi dengan anak-anak dengan kesukaan sama di seluruh dunia, bertukar ilmu dan pengalaman tanpa perlu bepergian jauh dan berkumpul di satu lokasi.

Internet adalah sebuah dunia yang isinya diperkaya setiap saatnya. Pelbagai ilmu dan pengalaman baru dimasukkan setiap waktunya. Saya memberikan rasa salut saya pada para pengguna Internet yang telah membagikan ilmu dan pengalamannya untuk kemajuan dunia pendidikan di Indonesia, dengan tentu tidak memandang sebelah mata bahwa dunia pendidikan senyatanya tidak hanya hadir di tempat-tempat formal, namun juga pendidikan non-formal, pendidikan budaya dan pendidikan budi pekerti. Dan bagi mereka yang menggerakkan dunia pendidikan secara nyata, serta memberi dan mendapat dorongan di dunia maya, sebut saja salah satunya adalah penggiat Taman Bacaan Pelangi yang pasti sudah banyak dikenal di kalangan pemerhati pendidikan di dunia maya.

Revolusi pendidikan melalui dunia maya hanya dapat terjadi jika kita telah mengenal dan memahami seluk beluk dunia maya itu sendiri, sedemikian hingga kita akan melihat potensinya secara nyata. Tentu saja untuk optimalisasi pendidikan melalui dunia maya, negeri ini memiliki banyak kendala. Pertama adalah infrastruktur, dan hal ini sangat jelas. Jangan akses Internet yang masih termasuk mahal dan mewah di negeri ini, bahkan banyak bangunan sekolah pun terkesan terlantar. Ketika sekolah menjadi sesuatu yang mahal dan mewah untuk kebanyakan rakyat di negeri ini, apalagi infrastruktur Internet untuk pendidikan, bisa jadi itu hanya mimpi di atas awan bagi kita semua.

Negeri ini memiliki masalah multidimensional, tidak perlu saya jelaskan, televisi selalu menayangkannya dalam porsi yang cukup banyak daripada yang kita bisa telan setiap harinya. Jadi saya ragu, jika ada unsur di negeri ini yang mampu menyediakan infrastruktur ini. Apakah pemerintah? Ah, saya juga ragukan itu. Apakah pihak swasta? Hmm…, tapi apa ada yang bersedia berinvestasi pada sesuatu yang hasilnya hanya akan baru tampak bagi negeri ini dalam dua atau tiga generasi setelahnya?

Ketika infrastruktur itu sendiri masih abu-abu untuk dapat terwujud, kita memiliki kendala lain yang lebih fundamental, yaitu mentalitas kita. Kebanyakan dari kita ingin hasil dari teknologi itu serba instan, kita tidak mau bekerja keras untuk memahaminya. Sebagai contoh, coba saya tanya, seberapa banyak dari Anda yang menggunakan komputernya masih menggunakan program/berkas bajakan, termasuk sistem operasinya? Dan sebagian besar saya perhatikan masih menikmati teknologi bajakan di negeri ini, asal mudah dan asal gampang, serta asal murah. Kita cenderung membenarkan sesuatu yang jadi kebiasaan kita dan menjauhkan diri dari membiasakan yang benar. Dan kebanyakan hal ini dilakukan oleh orang-orang yang telah mengenyam pendidikan cukup tinggi untuk mengetahui mana yang pantas dan mana yang tidak pantas.

Ketika kita tidak siap memahami dan mengadaptasi teknologi komputerisasi dan Internet secara baik, benar dan pantas. Maka kita adalah pribadi yang tidak pantas untuk turut serta dalam pembaruan pendidikan di negeri ini. Jika kita ingin turut serta dalam pembaruan pendidikan di negeri ini, baik dengan manual klasiknya maupun dengan teknologi informasi terkini, maka pertama-tama kita harus menjadi pribadi yang layak untuk itu. Sehingga kita pada akhirnya berhak untuk memetik buah yang baik dari kerja keras kita dalam mewujudkannya. Saya tidak pernah berkata bahwa merevolusi pendidikan melalui dunia maya itu mudah dan tak perlu kerja keras. Namun teknologi informasi untuk itu telah ada kini dan sekarang, bukan esok ataupun seabad lagi. Yang kita perlukan adalah determinasi dalam pengoptimalannya. Sehingga harapan saya, negeri ini akan memiliki sumber daya – sumber daya untuk semua itu, termasuk dalam pembangunan infrastruktur yang menunjangnya.

 

 

 

 

Iklan